Seringkali Terjadi Pada Atlet, Mengapa Cedera ACL Rentan Terjadi?

Updated: Apr 12, 2021

Bersama Tim Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga

Klik disini untuk cek jadwal dokter!


Source: Vivagoal


MetroHealth MMC - Tak sedikit para pesepakbola top dunia pernah mengalami cedera ACL atau yang biasa dikenal sebagai cedera ligamen lutut. Seperti Alessandro del Piero yang sempat menepi akibat cedera ACL pada tahun 1998 silam saat dirinya masih menjadi bagian dari Juventus, lalu gelandang hebat yang pernah dimiliki Barcelona, Xavi yang harus mengalami masa sulit karena harus mengalami cedera ACL di lutut kanannya pada musim 2005/2006 silam. Pada saat itu, Xavi mengalami cedera saat menjalani sesi latihan.


Selain Alessandro del Piero dan Xavi, beberapa pemain top dunia lainnya yang pernah mengalami cedera ligamen lutut adalah Gerard Pique, Zlatan Ibrahimovic, Ruud van Nistelrooy, Roberto Baggio, dan Virgil van Dijk. Van Dijk saat itu sedang bermain di laga derby Merseyside antara Liverpool vs Everton. Saat itu ia terkena tekel gunting yang cukup brutal oleh Jordan Pickford.


Beberapa kejadian tersebut jelas menggambarkan bahwa cedera ligamen lutut rentan terjadi pada olahragawan ataupun orang yang gemar beraktivitas fisik. Lalu, sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan cedera ACL atau cedera ligamen lutut?


Apa itu ACL dan Mengapa bisa Cedera?

ACL merupakan singkatan dari Anterior Cruciate Ligament yang merupakan salah satu ligamen yang berada di area lutut. ACL dapat mengalami cedera yang diakibatkan oleh kontak seperti tackle maupun non kontak seperti pada gerakan berbelok mendadak (pivot) dan salah mendarat setelah melompat.


Menurut dokter spesialis kedokteran olahraga RS MMC, terdapat beberapa grade pada cedera ACL. Secara umum cedera ACL dibagi menjadi 3 berdasarkan grade, yaitu robekan minimal, robek, dan putus.


Selanjutnya, gejala yang seringkali terjadi pada seseorang yang terkena cedera ACL adalah bunyi ‘POP’ pada area lutut disertai nyeri mendadak di area lutut hingga terjadi kesulitan bergerak mendadak setelah melakukan gerakan.


Jenis Aktivitas Fisik yang Seringkali Menyebabkan Cedera ACL

Aktivitas fisik atau olahraga yang gerakannya menuntut kelincahan, perubahan gerakan mendadak serta tinggi kontak, berisiko terjadinya cedera ACL pada para pemainnya. Sepak bola, basket, futsal, bulutangkis, hingga rugby menjadi beberapa contoh aktivitas fisik yang seringkali menyebabkan cedera ACL.


Di sisi lain, yang menjadi faktor risiko utama pada terjadinya cedera ACL bukanlah jenis aktivitas fisik atau olahraganya, namun faktor risiko utamanya adalah rendahnya kebugaran dan lemahnya otot hamstring. Oleh karena itu, kebugaran seseorang menjadi modal utama dalam menjalani aktivitas fisik serta olahraga.


Post-therapy yang Dapat Dilakukan setelah Mengalami Cedera ACL

Saat pertama kali seseorang terindikasi mengalami cedera ACL di lapangan, hal yang dapat dilakukan adalah RICE (Rest, Ice, Compression, Elevation), selanjutnya dirujuk untuk dilakukan pemeriksaan fisik dan penunjang lebih lanjut seperti MRI untuk menentukan pengambilan keputusan terapi.


Setelah dilakukan tindakan dan penanganan pada ACL, hal yang terpenting adalah melakukan rehabilitasi dan fisioterapi untuk mengembalikan fungsi dari sendi lutut. Namun seringkali reconditioning dilupakan dalam fase penyembuhan dari cedera. Reconditioning dibutuhkan untuk menjaga kebugaran seseorang agar tidak mengalami penurunan selama fase rehabilitasi dijalankan. Kebugaran yang terjaga dengan baik akan mengurangi risiko terjadinya cedera berulang pada seseorang.


Turunnya kebugaran khususnya keseimbangan kekuatan otot menjadi faktor risiko cedera berulang. Risiko cedera berulang (putus ACL berulang) cukup tinggi, oleh karena itu proses reconditioning yang dilakukan oleh kedokteran olahraga dalam rangka meningkatkan performa menjadi cukup vital.


Lalu, apa indikator seseorang dapat dikatakan pulih dari cedera? Terdapat beberapa indikator antara lain clearance test seperti ROM yang sudah kembali, kekuatan otot yang sudah >90% sama dengan sisis sehat, serta lolos dari tes fungsional hingga dinyatakan aman untuk return to activity dan sports, bahkan untuk menjalani fase return to performance and competition. (DDY)

 

Klik disini untuk pendaftaran konsultasi!

296 views0 comments