Mengenal Istilah Cancel Culture: Fenomena boikot terhadap Public Figure di Media Sosial



MetroHealth - Baru-baru ini, fenomena boikot terhadap public figure baik dalam negeri maupun luar negeri atau yang dikenal dengan istilah Cancel Culture marak dan mudah ditemukan di linimasa media sosial dari Instagram maupun Twitter. Dari dalam negeri, salah satu mantan penyiar radio dan pengusaha ‘GF’ dituding melakukan pelecehan seksual kepada salah satu penonton salah satu event di Kota Malang tahun 2018 saat ia menjadi MC. Pelapor pertama kali melaporkan kejadian ini melalui akun media sosial Twitter-nya yang lantas memicu warganet langsung melakukan kecaman kepada ‘GF’ yang membuat ia kehilangan pekerjaan dan brand banyak yang mundur dari kerjasama dengannya. Atau yang lebih parah adalah ketika keluarganya juga diserang oleh warganet dengan segala sumpah serapah. Padahal mereka tidak ada hubungannya dengan apa yang dilakukan oleh ‘GF’.


Pengertian Cancel Culture

Cancel Culture adalah bentuk modern dari pengucilan dengan mengeluarkan seseorang dari lingkaran sosial atau profesional, baik itu secara online di media sosial, maupun secara langsung. Bentuk sederhananya yaitu memboikot orang dan menghentikan dukungan karena perspektif mereka menyebabkan ketidaknyamanan khalayak ramai. Biasanya orang yang kena cancel culture adalah selebriti atau tokoh terkenal, sebutan untuk mereka adalah 'canceled'.


Cancel Culture belakangan memang menjadi tren tersendiri di dunia hiburan sekaligus menjadi momok menakutkan bagi banyak public figure. Aksi boikot ini khususnya banyak terjadi di Amerika Serikat dan Korea Selatan. Cancel Culture di Korea Selatan agaknya jauh lebih kejam dibandingkan di Amerika Serikat. Ketika terjerat skandal, kebanyakan akan dipermalukan dan sulit kembali ke panggung hiburan.

Berbeda dengan di Amerika Serikat yang masih memberikan kesempatan untuk kembali berkarir meskipun dalam skala yang lebih kecil. Publik Korea Selatan juga lebih sensitif karena banyak faktor yang bisa menjadi pemicu Cancel Culture. Selain tindakan kriminal, perilaku tidak pantas seperti gaslighting atau merokok ketika sekolah juga bisa menjadi sumber boikot publik.


Data pada Google Trends mengindikasikan bahwa per tanggal 13 Februari 2022, cancel culture menjadi trend lagi di mesin pencarian Google yang mana di tanggal 12 Februari 2022, mencuat kembali karena yang diduga korban dari ‘GF’ speak up lagi di media sosial Twitter-nya yang menyebabkan warganet kembali meramaikan linimasa sosial media. Dikutip dari situs The University of Alabama at Birmingham, Dr. Jill McCorkel, seorang profesor sosiologi dan kriminologi di Universitas Villanova mengatakan cancel culture sebenarnya bukanlah tradisi yang baru di masyarakat. Kebiasaan ini sudah ada sepanjang sejarah keberadaan manusia. Masyarakat telah menghukum orang lain karena berperilaku di luar norma sosial yang dirasakan selama berabad-abad. Cancel culture yang marak di era digital ini hanyalah variasi lain yang lebih baru. Cancel culture adalah perpanjangan atau evolusi kontemporer dari serangkaian proses sosial yang lebih berani yang dapat kita lihat dalam bentuk pengusiran. Cara ini dirancang untuk memperkuat seperangkat norma dengan menjadikan para pesohor termasuk selebriti, perusahaan, dan media sebagai sasarannya.


Dampak dari cancel culture di era digital ini langsung menyerang sendi-sendi kehidupan. Misalnya seperti ada yang kehilangan berbagai kontrak pekerjaan, bullying di media sosial, pengurangan adegan dalam sebuah drama, filmnya sulit tayang, dikeluarkan dari pemegang saham suatu bisnis dan kehilangan penggemar.

Dari contoh kasus tersebut, bisa dilihat bagaimana peran tukang 'cancel' ini yang langsung menskakmat' korban terlepas dari benar atau tidaknya pelecehan tersebut terjadi karena statusnya masih terduga dan belum naik ke meja hijau. Sehingga cancel culture ini dapat berefek buruk yang menyebabkan masyarakat jadi gampang untuk meng-cancel orang tanpa mau mendengar alasannya lebih dulu. Mereka yang meng-cancel terlanjur malas untuk cross check kebenarannya dan memilih mengikuti rumor yang beredar.


Dampak Cancel Culture

Dampak dari cancel culture bagi terduga pelaku biasanya orang yang telah kena “cap” terduga pelaku/ getting canceled ini jadi takut untuk menyuarakan pembelaannya karena semakin banyak suara yang menghujatnya. Tentunya hak kebebasan berbicaranya menjadi terbatas dan cenderung tidak mendapatkan ruang untuk membela diri. Para terduga pelaku ini akan menganggap seluruh dunia sedang menyerangnya dan ditakutkan bisa berakibat buruk pada kondisi mental mereka.


Tetapi selepas itu, keberpihakan tetap harus bersama korban/pelapor walaupun sang terlapor belum terbukti tindakannya di mata hukum. Maka, jika suatu saat ada korban yang benar-benar terbukti dilecehkan dan ia berani untuk speak up di sosial medianya, kita pun tetap mendukung dan mensupport korban apapun bentuknya.


Lingkungan sosial, pertemanan dan pekerjaan memang tidak melulu berkaitan, namun selalu ingat ya, MetroFriends dimanapun dan kapanpun berada, kita harus tetap menjaga norma sosial yang berlaku di sekitar agar terhindar dari masalah di kemudian hari. Dan jika MetroFriends atau orang terdekat menjadi korban kekerasan seksual, segera cari pendamping hukum agar masalahnya cepat selesai dan tidak menimbulkan trauma ya, MetroFriends! (NAM)






42 views0 comments