Mengenal Penyakit Jantung Koroner dan Penanganannya

Bersama dr. Maya Munigar Apandi, SpJP. FIHA

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah MMC Hospital


Klik disini untuk cek jadwal dokter!

MetroHealth - Penyakit Jantung Koroner (PJK) merupakan masalah kesehatan global di negara maju dan berkembang. Data dari Malaysian Journal of Medicine and Health Sciences Blood Institute bahwa kasus PJK di Indonesia terjadi pada orang-orang pada kelompok usia 60 tahun dengan 2.228 kasus dan kelompok usia 35-59 tahun dengan 1.934 kasus. Sementara itu, pasien dengan PJK di fasilitas perawatan rawat inap rumah sakit sebagian besar adalah orang-orang pada kelompok usia 45-64 tahun dengan total 29.074 kasus, dan orang-orang pada kelompok usia di atas atau sama dengan 65 tahun dengan total 14.733 kasus

Penyakit jantung yang sering ditemui pada orang dewasa di Indonesia berdasarkan laman Sehat Negeriku Kementerian Kesehatan menunjukan data dari Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2018 bahwa prevalensi PJK di Indonesia sebesar 1,5%. Data dari World Health Organization (WHO) memperlihatkan bahwa PJK masih merupakan penyebab kematian utama di dunia. Sekitar 7,4 juta individu (13,2% dari seluruh kematian) di dunia meninggal tiap tahun akibat PJK.

Hiperkolesterol: Salah Satu Faktor Risiko Penyakit Jantung Koroner

dr. Maya Munigar Apandi, SpJP. FIHA, Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Rumah Sakit Metropolitan Medical Centre menyatakan bahwa kadar kolesterol darah yang tinggi (dislipidemia) dan hiperkolesterol merupakan salah satu faktor risiko utama untuk terjadinya PJK dan stroke di samping hipertensi, diabetes melitus, merokok, obesitas, stres psikososial dan aktivitas fisik.


Kolesterol merupakan senyawa lemak yang diproduksi oleh berbagai sel dalam tubuh, dan sekitar seperempat kolesterol yang dihasilkan dalam tubuh diproduksi oleh sel-sel hati. Dalam keadaan normal, lemak memang diperlukan oleh tubuh supaya tubuh bisa berfungsi secara normal. Tetapi kadar lemak yang berlebihan di dalam tubuh akan meningkatkan risiko terkena serangan jantung mendadak, stroke, dan masalah kesehatan lain.


Dislipidemia dan hiperkolesterol didefinisikan sebagai kelainan metabolisme lipid yang ditandai dengan peningkatan maupun penurunan fraksi lipid dalam plasma. Kelainan fraksi lipid yang utama adalah kenaikan kadar kolesterol total, kolesterol LDL, trigliserida, serta penurunan HDL. Namun intinya hiperkolesterol berarti kadar lemak dalam darah yang tinggi (lebih tinggi daripada normal kadar lemak yang seharusnya) dan ini menjadi salah satu faktor risiko utama untuk terjadinya PJK, tambah Dokter Maya.

Dokter Maya menambahkan bahwa prevalensi dislipidemia atas dasar konsentrasi kolesterol total >200 mg/dL adalah 39,8%. Dislipidemia, khususnya kolesterol LDL, mempunyai bukti kuat berhubungan erat dengan kejadian kardiovaskular berdasarkan banyak studi.

Hiperkolesterol tidak memiliki gejala ataupun tanda yang spesifik. Kebanyakan faktor penyebab hiperkolesterol berhubungan dengan gaya hidup tidak sehat. Yang paling sering adalah dari kebiasaan mengkonsumsi makanan yang mengandung kadar lemak yang tinggi. Faktor risiko yang lain diantaranya berat badan di atas berat badan yang direkomendasikan, kebiasaan minum minuman beralkohol secara berlebihan, kurang olahraga dan gaya hidup yang tidak banyak bergerak atau dikenal dengan istilah sedentary lifestyle. Beberapa masalah kesehatan lain juga dapat meningkatkan kadar lemak dalam darah. Keturunan atau keluarga juga bisa mengambil peranan penting dalam masalah kolesterol seperti kondisi yang dikenal dengan familial hyperlipidemia jelasnya.

Menurut Dokter Maya, terdapat beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mengontrol kadar lemak dalam tubuh untuk membantu kita menghindari penyakit jantung dan serangan jantung. Langkah sederhana namun penting dan efektif adalah memperbaiki gaya hidup dengan cara:

  • Diet berimbang, mengurangi asupan asam lemak jenuh, meningkatkan asupan serat seperti kacang-kacangan, buah, sayur, sereal dan mengurangi asupan karbohidrat.

  • Penurunan berat badan dan berusaha mencapai berat badan ideal.

  • Aktivitas fisik secara teratur seperti jalan cepat 30 menit per hari selama 5 hari per minggu atau aktivitas lain yang setara. Aktivitas fisik ini akan berpengaruh besar terhadap kolesterol total dan LDL jika disertai diet dan penurunan berat badan.

  • Menghentikan kebiasaan merokok, dan

  • Membatasi konsumsi minuman beralkohol.

Setidaknya diperlukan waktu 3 bulan untuk menjalankan langkah-langkah diatas agar bisa menurunkan kadar lemak darah yang tinggi. Pada beberapa kasus, perubahan gaya hidup mungkin saja cukup untuk memperbaiki kadar lemak darah. Sedangkan pada kasus lain, diperlukan terapi tambahan seperti obat-obatan guna mempercepat proses pemulihan. Pemeriksaan rutin disarankan untuk memantau kadar lemak darah secara berkala, pemeriksaan juga dapat dilakukan pada usia yang lebih muda, bila memiliki faktor risiko lain.

Jika MetroFriends ingin berkonsultasi lebih lanjut mengenai penyakit jantung koroner, maupun rawat inap dan rawat jalan, dapat langsung menghubungi layanan Metrovia atau dapat berkonsultasi langsung dengan Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Rumah Sakit Metropolitan Medical Centre. (AR)

dr. Maya Munigar Apandi, SpJP. FIHA

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Rumah Sakit Metropolitan Medical Centre


9 views0 comments