Mitos dan Fakta Seputar Penyakit Jantung

Updated: Jul 1


Metrohealth - Serangan jantung sejatinya bukan hal baru di masyarakat. Pesohor hingga masyarakat biasa tak sedikit yang mengalami gangguan ini. Sayangnya, di masyarakat banyak beredar mitos atau pun kabar yang simpang siur terkait serangan jantung. Misal, kebanyakan awam meyakini serangan jantung terjadi pada mereka yang berusia lanjut. Namun, MetroFriends perlu tahu bahwa tak sedikit pada usia produktif juga dapat terserang penyakit ini.

Memahami mitos dan fakta serangan jantung dapat membuat jantung tetap terjaga baik. Lantas apa saja mitos maupun fakta dari serangan jantung itu, mengutip dari laman Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, berikut beberapa mitos dan fakta dari penyakit jantung yang perlu MetroFriends ketahui!

[MITOS] Orang lanjut usia lumrah memiliki darah tinggi

[FAKTA] Bertambahnya usia diikuti dengan risiko tekanan darah yang meningkat. Hal ini turut memicu risiko serangan jantung. Tingginya tekanan darah dapat merusak pembuluh darah dan mengganggu sirkulasi. Sehingga, jantung dipaksa bekerja lebih keras. Akibatnya memicu kerusakan fungsi yang berakibat stroke atau serangan jantung.

[MITOS] Pria lebih mudah terkena serangan jantung

[FAKTA] Apabila seorang wanita telah memasuki masa menopause maka risiko serangan jantung akan sama besarnya dengan pria. Oleh karena itu, baik pria maupun wanita tetap perlu untuk melakukan pola hidup sehat.

[MITOS] Usia muda bebas dari serangan jantung

[FAKTA] Gaya hidup yang kurang tepat di usia muda seperti obesitas, merokok, kurang olahraga, hingga stress berisiko mengalami gangguan jantung.

[MITOS] Sering sakit dada merupakan gejala gangguan jantung

[FAKTA] Nyeri dada merupakan salah satu gejala serangan jantung. Gejala lainnya seperti berkeringat berlebih, nyeri di kedua lengan, leher, atau dagu. Selain itu juga perasaan kepala seperti melayang atau sulit tidur. Untuk diagnosis pastinya segera cek ke dokter.


[MITOS] Stress berpengaruh buruk untuk kesehatan jantung

[FAKTA] Menurut studi, pribadi yang mudah tegang, tergesa-gesa, dan sulit rileks cenderung berisiko mengalami gangguan jantung. Cara bereaksi seseorang yang berlebihan membuat jantung menjadi tertekan. Depresi, terisolasi, kurang bersosialisasi juga bisa berakibat negatif untuk jantung. Pada akhirnya, mengelola emosi dengan baik dapat bermanfaat bagi kesehatan jantung.

[MITOS] Orang kurus tak berisiko gangguan jantung

[FAKTA] Tak hanya mereka yang gemuk, orang dengan berat badan ideal dan kurus pun tak lepas dari risiko gangguan jantung. Selain itu juga berisiko mengalami tekanan darah tinggi, kadar kolesterol tinggi, dan risiko masalah lainnya. Penting mengecek kesehatan secara berkala dan menjaga pola hidup sehat.

[MITOS] Mengonsumsi obat kolesterol, bebas makan apa saja

[FAKTA] Kolesterol dalam tubuh tidak hanya dari makanan, tapi juga dari hati (liver). Meminum obat statin dapat mengurangi kolesterol dari liver. Namun, bila makanan yang dikonsumsi sembarangan maka obat itu tidak ada gunanya. Konsumsi obat ditunjang dengan kontrol makanan lemak tinggi.

[MITOS] Angioplasty, pemasangan stent atau bypass menyelesaikan gangguan jantung

[FAKTA] Langkah tindakan bedah ini bertujuan untuk mengatasi sumbatan yang ada di pembuluh darah, yang akan mengurangi nyeri dada akibat sumbatan tersebut dan meningkatkan kualitas hidup. Namun perlu diingat langkah ini tidak lantas menyelesaikan permasalahan penyumbatan pembuluh darah. Tanpa ditunjang diet seimbang, latihan teratur, dan menjaga tekanan darah, maka pembuluh darah dapat tersumbat kembali oleh plek. Hal ini membuat stroke dan masalah jantung berulang.

Jika MetroFriends ingin berkonsultasi lebih lanjut mengenai pemeriksaan penyakit jantung, maupun rawat inap dan rawat jalan, dapat langsung menghubungi layanan Metrovia atau dapat berkonsultasi langsung dengan Dokter Spesialis Jantung Rumah Sakit Metropolitan Medical Centre. (AR)

Tim Dokter Cardiovascular Cluster Rumah Sakit Metropolitan Medical Centre

48 views0 comments