Pentingnya Melakukan Tes Dini Diabetes!


Metrohealth - Diabetes Mellitus (DM) atau yang biasa dikenal dengan kencing manis ini merupakan salah satu penyakit silent killer karena sering tidak disadari oleh penderitanya dan saat diketahui sudah terjadi komplikasi. Dikutip dari Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan jumlah kematian akibat DM akan meningkat dua kali lipat selama periode 2005 – 2030.


Dilansir dari Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, diabetes mellitus adalah penyakit kronik yang terjadi saat pankreas tidak mampu memproduksi insulin atau ketika tubuh tidak efisien menggunakan insulin itu sendiri. Insulin merupakan hormon dalam tubuh yang bekerja mengatur kadar gula darah. Kenaikan kadar gula darah atau Hiperglikemia adalah efek yang tidak terkontrol dari diabetes dan dalam waktu panjang dapat terjadi kerusakan yang serius pada beberapa sistem tubuh, khususnya pada pembuluh darah jantung yang dapat menyebabkan jantung koroner atau pada bagian tubuh lainnya seperti dapat terjadi kebutaan mata, gagal ginjal, stroke, atau komplikasi lainnya. Ada dua jenis utama diabetes mellitus, yaitu diabetes mellitus tipe 1 dan tipe 2. Yuk simak perbedaanya:


Diabetes Mellitus Tipe I

Diabetes mellitus tipe ini disebabkan akibat kekurangan insulin dalam darah yang terjadi karena kerusakan dari sel-sel beta pankreas akibat faktor genetik, imunologis, dan juga lingkungan. Hal ini menyebabkan kadar glukosa darah meningkat sehingga memicu kerusakan pada organ-organ tubuh. DM tipe I memerlukan injeksi insulin untuk mengontrol kadar glukosa darah.


Diabetes Mellitus Tipe II

Diabetes mellitus tipe II ini disebabkan insulin yang ada tidak dapat bekerja dengan baik, kadar insulin dapat normal, rendah atau bahkan meningkat tetapi fungsi insulin untuk metabolisme glukosa tidak ada / kurang. Akibatnya glukosa dalam darah tetap tinggi sehingga terjadi hiperglikemia. Rata-rata penderita DM tipe II ini adalah penderita obesitas atau berat badan sangat gemuk, penderita obesitas yang memiliki faktor diabetes biasanya juga menyadari sebagai penderita DM tipe II ketika usia lebih dari 30 tahun.


Tanda dan Gejala Diabetes Mellitus

Diabetes melitus tipe I dan tipe II ini memiliki gejala yang hampir sama karena adanya peningkatan kadar gula darah dalam tubuh. Menurut Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, tanda dan gejala yang paling umum yaitu:

  • Meningkatkan frekuensi buang air kecil

  • Rasa haus yang berlebihan

  • Penurunan berat badan

  • Rasa lapar yang berlebihan

  • Merasa cepat lelah dan kadang

  • Masalah pada kulit (kulit kering, luka yang sulit sembuh, luka terbuka dan basah).

  • Kesemutan dan mati rasa di tangan dan kaki kadang bersamaan dengan rasa sakit yang membakar atau bengkak.

Diagnosis Diabetes Mellitus

Tes gula darah sangat diperlukan untuk mengetahui kadar gula darah seseorang sehingga dapat menetapkan mendiagnosis diabetes mellitus tipe I atau tipe II. Tes gula darah juga direkomendasikan baik untuk orang yang tidak mengalami gejala DM atau sedang mengalami gejala DM seperti diatas namun belum pernah terdiagnosis. Dokter akan merekomendasikan pasien untuk menjalani tes gula darah pada waktu dan dengan metode tertentu. Menurut data dari Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, metode tes gula darah dibedakan menjadi beberapa jenis, yaitu:


1. Tes Gula Darah Sewaktu

Tes gula darah sewaktu dapat dilakukan kapan saja dan pasien tidak perlu berpuasa terlebih dahulu. Tes ini dilakukan pastinya untuk menilai tinggi atau rendahnya kadar gula darah seseorang. Jika hasil dari tes menunjukan kadar gula lebih sama dengan atau lebih dari 200 mg/dL maka pasien dapat terdiagnosa diabetes.

2. Tes Gula Darah Puasa

Tes gula darah puasa merupakan tes yang mengharuskan pasien untuk berpuasa 8 jam terlebih dahulu. Pada tes ini mengklasifikasikan kemampuan tubuh dalam mengontrol kadar gula dalam darah tanpa terpengaruh oleh makanan yang sudah dikonsumsi. Jika hasil tes gula darah puasa kurang dari 100 mg/dL maka dikatakan normal, kemudian jika hasil tes gula darah puasa berada dinilai 100-125 mg/dL maka masuk dalam kategori pra-diabetes dan jika hasil tes gula darah puasa lebih dari 126 mg/dL maka pasien menderita diabetes. Tes gula darah puasa ini merupakan tes yang paling sering dilakukan untuk mendiagnosa penyakit diabetes.

3. Tes Toleransi Glukosa Oral

Tes toleransi glukosa oral merupakan tes kadar gula darah yang diukur setelah puasa semalam. Kemudian pasien diminta minum larutan gula khusus dan akan diambil sampel darah lagi setelah 2 jam dengan metode yang sama. Sampel gula darah pasien kemudian diperiksa di laboratorium.


4. Tes HbA1C (Glycated Haemoglobin Test)

Tes ini dilakukan untuk mengetahui kadar gula darah rata-rata pasien selama dua hingga tiga bulan terakhir. Metode tes ini adalah dengan mengukur jumlah glukosa yang terikat pada hemoglobin, yakni protein dalam sel darah merah yang membawa oksigen. Dalam tes HbA1C, pasien tidak diharuskan menjalani puasa terlebih dahulu.


Selain penderita diabetes, tes gula darah perlu dilakukan seseorang agar mengetahui kadar gula darah normal atau sudah melebihi batas normal tetapi belum dikategorikan diabetes sudah termasuk pra-diabetes, jika tidak segera diobati dan mengubah gaya hidup serta pola makan maka dalam kurun waktu 5-10 tahun menjadi diabetes.


Sedangkan pada penderita diabetes diharuskan untuk melakukan tes gula darah secara berkala dan memeriksakan diri ke dokter secara rutin agar dokter dapat memantau apakah kadar gula darahnya terkendali melalui pengobatan yang diberikan.


Jika MetroFriends ingin berkonsultasi lebih lanjut mengenai pemeriksaan penyakit diabetes melitus, pemeriksaan kadar gula darah, maupun rawat inap dan rawat jalan, dapat langsung menghubungi 0817-4903-162 atau dapat berkonsultasi langsung dengan Dokter Sub Spesialis Penyakit Dalam Rumah Sakit Metropolitan Medical Centre. (SA)


19 views0 comments