Trans Esofagus Echocardiogram (TEE) - Salah Satu Cara Skrining Penyakit Jantung

Updated: Jul 1


Metrohealth - Skrining kardiovaskular atau deteksi penyakit jantung adalah metode pemeriksaan untuk mengukur atau menilai kesehatan jantung serta faktor risiko yang dapat menyebabkan penyakit jantung. Skrining jantung adalah metode yang efektif untuk mengidentifikasi penyakit jantung karena dapat mendeteksi faktor risiko pada tahap awal.


Sebagai salah satu organ tubuh yang paling penting, jantung berfungsi untuk memompa darah dan mengedarkan nutrisi dan oksigen ke organ dan jaringan tubuh. Maka dari itu, penting sekali untuk mencegah kelainan atau penyakit yang dapat terjadi pada jantung.


Hingga saat ini, penyakit kardiovaskular masih menjadi penyebab kematian tertinggi di dunia, dengan jumlah korban 17 juta setiap tahunnya. American Heart Association (AHA) menyatakan jika hal ini terus terjadi atau memburuk, jumlah korban dapat mencapai 23 juta setiap tahun pada tahun 2030.

Untuk mencegah hal tersebut, perlu dilakukan tes skrining jantung bagi setiap orang. Tes skrining bertujuan untuk mengurangi tingkat kematian dengan mendeteksi gejala penyakit sebelum muncul atau bertambah parah.

Salah satu metode diagnostik atau skrining jantung yang perlu MetroFriends ketahui adalah Trans Esofagus Echocardiogram (TEE). Mengutip dari Jurnal Kardiologi Indonesia bahwa selama masa perkembangannya, TEE menjadi sebuah penemuan besar dalam sejarah pencitraan jantung. TEE merupakan suatu cara memvisualisasikan jantung menggunakan transducer khusus yang dimasukkan melalui mulut pasien ke kerongkongan dengan rentang frekuensi 5 - 7,5 MHz, di ujung gastroskop yang ditempatkan dari kerongkongan. Metode ini menghasilkan gambar internal struktur jantung yang lebih sempurna karena tidak adanya gangguan pada hantaran suara ultra dari transducer TEE oleh struktur dinding dada atau jaringan paru.

Indikasi TEE

Perlu diketahui bahwa Trans Esofagus Echocardiogram (TEE) memiliki beberapa indikasi seperti untuk evaluasi penyakit katup native, katup prosthetic, masa cardiac, penyakit jantung kongenital, hemodinamik tidak stabil. Deteksi adanya diseksi aorta, cardiac source of emboli, dan endokarditis. Pendukung untuk prosedur intervensi non bedah seperti halnya pada pemasangan ASO, AMVO, atau evaluasi penggantian katup atau repair di kamar operasi. Kontra Indikasi TEE dikontraindikasikan pada tumor, striktura, divertikulum, varices esophagus, takikardi supraventrikuler dan laryngospasme.

Prosedur Dilakukannya TEE

Sebelum dilakukannya TEE, terdapat beberapa prosedur yang perlu MetroFriends ketahui, nih! Pertama, wajib untuk puasa terlebih dahulu selama 6 jam. Selain itu, harus menandatangani informed consent serta menjawab pertanyaan terkait konsumsi obat pengencer darah (anticoagulant). Kemudian, badan pasien akan dimiringkan ke arah kiri, untuk dilakukan anestesi lokal menggunakan Xylocain Spray 10% pada esophagus untuk menimbulkan efek reflek muntah.

Tahap berikutnya, diperlukan waktu selama 20 menit untuk dilakukan pemasangan infus dan anestesi bila perlu) dan 20 menit lainnya untuk dilakukan introduksi TEE serta pemeriksaan. Namun, sebelum semua prosedur tersebut dilakukan, maka pasien harus melakukan pemeriksaan Transthoracic Echocardiografi (TTE).

Pemantauan atau monitoring sangat perlu dilakukan selama prosedur TEE dijalankan seperti pemantauan terhadap tekanan darah, nadi, saturasi Oksigen dan EKG. Apabila terjadi kejadian yang tidak terduga seperti produksi saliva pasien yang sangat banyak, maka tambahan tindakan lain seperti suction perlu dilakukan. Apabila pasien merasakan kegelisahan, maka dapat ditambahkan sedasi ringan seperti midazolam dosis 2-4 mg.

Sebelum dilakukan introduksi transducer TEE, pasien dapat menundukkan kepala atau memfleksikan leher dalam posisi dekubitus lateral kiri. Prosedur introduksi probe TEE dapat dilakukan melalui dua cara yaitu :

  • Cara pertama: Masukkan 1 - 2 jari kedalam mulut untuk menekan lidah dan menuntun mengarahkan transducer saat akan masuk ke esophagus. Sebelum dimasukkan, transducer dioleskan jelly secukupnya hingga penanda kedalaman minimal 20-30 cm. Setelah itu, pasien diminta untuk menelan sampai pada kedalaman 30 cm alat penahan mulut (mouth guard) dipasangkan.

  • Cara kedua: Mouth guard harus dipasangkan terlebih dahulu kemudian disusul dengan pemasangan transducer kedalam mulut yang diarahkan masuk esophagus secara perlahan hingga 30-35 cm. Apabila terjadi episode vasovagal atau hipotensi , turunkan ujung kepala meja pemeriksaan dan berikan sulfas atropine 0,5-1,0 mg iv dan berikan cairan intravena bila perlu inotropik. Pemeriksaan multiple dapat dilakukan pada tiap ruang jantung dan struktur menggunakan berbagai angulasi mulai 0 derajat – 180 derajat.

TEE menjadi alternatif baik bagi MetroFriends yang ingin mencoba metode skrining jantung lainnya karena prosedurnya dapat dilakukan secara rawat jalan non-bedah menggunakan tabung fleksibel untuk memberikan gambaran lebih detail terkait jantung. Prosedur ini semi invasive dengan risiko rendah menggunakan transducer serta frekuensi tinggi dengan menggunakan esophagus dan gaster sebagai jalan baru guna mengetahui struktur jantung yang tidak dapat terlihat dengan jelas.

Jika MetroFriends ingin berkonsultasi lebih lanjut mengenai skrining jantung maupun rawat inap dan rawat jalan, dapat langsung menghubungi layananMetroviaatau dapat berkonsultasi langsung dengan Dokter Spesialis Jantung Rumah Sakit Metropolitan Medical Centre. (AR)

Tim Dokter Cardiovascular Cluster Rumah Sakit Metropolitan Medical Centre



72 views0 comments