Yuk Kenali Depresi Secara Umum!

Updated: Jul 19


Metrohealth - MetroFriends pernah merasakan sedih yang mendalam dan rasa tidak peduli? Atau mungkin merasakan emosi yang tidak stabil? Jika pernah, mungkin Metrofrieds mendapati diri sedang terkena depresi. Depresi tidak hanya menyerang public figure dengan tingkat stress tinggi saja, melainkan orang dengan latar belakang apa pun dapat merasakan depresi.


Depresi sendiri merupakan suatu masalah kesehatan mental paling umum. Biasanya depresi akan dipicu oleh sejumlah faktor yang akan mempengaruhi keadaan psikologis seseorang dimana dampaknya dapat mengganggu semua aspek kehidupannya.Depresi bukan hanya rasa sedih atau tertekan, namun ini adalah gangguan mental yang berdampak serius. Jika mengalami depresi, yang dirasakan penderitanya mungkin mengalami gejala seperti mudah marah, rendah diri, dan sulit berkonsentrasi.


Orang mungkin enggan memeriksakan gejala depresi mereka karena sejumlah alasan. Seringkali mereka prihatin tentang stigma penyakit mental; kadang-kadang mereka khawatir bahwa penyedia layanan primer bukanlah profesional kesehatan yang tepat untuk tempat konsultasi ; beberapa menganggap kondisi mereka sebagai kelemahan pribadi daripada penyakit yang “nyata”; dan beberapa khawatir tentang implikasi dari penyakit kejiwaan yang dimasukkan ke dalam catatan permanen mereka. Tetapi pengobatan yang efektif memang ada, dan tidak mengobati depresi dapat menyebabkan masalah serius.


Orang dengan depresi yang tidak diobati memiliki kualitas hidup yang lebih rendah, risiko bunuh diri yang lebih tinggi, dan prognosis fisik yang lebih buruk jika mereka memiliki kondisi medis selain depresi. Faktanya, orang dengan depresi hampir dua kali lebih mungkin meninggal dibandingkan orang tanpa depresi, kebanyakan karena kondisi medis lainnya. Terlebih lagi, depresi tidak hanya mempengaruhi orang dengan gangguan tersebut, tetapi juga orang-orang di sekitarnya.


Gejala Depresi

Seseorang yang depresi umumnya menunjukkan ciri-ciri psikologi dan fisik tertentu. Ciri psikologis orang yang depresi adalah rasa cemas dan khawatir yang berlebihan, emosi yang tidak stabil, serta rasa putus asa atau frustasi. Sementara itu, ciri-ciri fisik pada seseorang yang depresi adalah selalu merasa lelah dan tak bertenaga, pusing dan nyeri tanpa penyebab yang jelas, serta menurunnya selera makan.

Penyebab Depresi

Depresi lebih sering dialami oleh orang dewasa. Penyebabnya diduga terkait dengan faktor genetik, hormon, dan zat kimia di otak. Beberapa faktor pemicu depresi antara lain:

  • Peristiwa traumatik

  • Tekanan batin, misalnya karena masalah keuangan atau masalah rumah tangga

  • Pola pikir yang salah, misalnya seperti toxic positivity

Jenis-jenis Depresi

Depresi terbagi dalam beberapa jenis, sesuai dengan tingkat keparahan dan penyebabnya. Dikutip dari Cleveland Clinic, berikut ini adalah penjelasan mengenai jenis-jenis depresi:

1. Depresi Mayor

Depresi mayor ditandai dengan rasa sedih, hilang ketertarikan, atau gejala depresi lainnya. Kondisi ini bisa terjadi hampir setiap saat dan berlangsung selama 2 minggu atau lebih.

2. Distimia

Distimia atau gangguan depresi kronis (persistent depressive disorder) adalah depresi mayor yang sudah berlangsung cukup lama, minimal selama 2 tahun.

3. Gangguan Bipolar

Gangguan bipolar adalah gangguan mood yang ditandai dengan perubahan suasana hati atau emosi yang drastis pada dua periode waktu. Saat mengalami bipolar, seseorang bisa mengalami episode mania (sangat senang) dan episode depresi mayor (sangat sedih atau terpuruk).

4. Depresi Postpartum

Kondisi ini biasanya dialami oleh ibu yang baru saja melahirkan. Umumnya, depresi postpartum akan ditandai dengan munculnya gejala depresi mayor dalam kurun waktu 1 tahun setelah melahirkan.

5. Premenstrual Dysphoric Disorder (PMDD)

Pada beberapa wanita, keluhan dan gejala PMDD bisa muncul 1 minggu sebelum menstruasi, kemudian menghilang setelah masa menstruasi. Kondisi ini berbeda dengan gejala PMS (premenstrual syndrome).


6. Depresi Atipikal (Atypical depression)

Depresi atipikal ditandai dengan munculnya beberapa gejala depresi yang terkadang tidak khas, seperti berat badan naik drastis, tidur yang terlalu banyak, dan sedih yang berlebihan dengan penolakan. Biasanya, gejala tersebut dapat mereda dengan suasana atau kejadian positif.

7. Psychotic Depression

Psychotic depression terjadi bila seseorang mengalami depresi berat dan disertai dengan gejala psikotik, seperti halusinasi, gangguan pola pikir, atau waham (delusi).

Ciri-ciri Depresi secara Psikis

  • Selalu merasa bersalah dan sering menyalahkan diri sendiri

  • Merasa putus asa, rendah diri, dan tidak berharga atau memiliki self esteem yang rendah

  • Selalu merasa cemas dan khawatir yang berlebihan

  • Suasana hati yang buruk atau sedih secara berkelanjutan

  • Mudah marah atau sensitif, dan mudah menangis

  • Sulit berkonsentrasi, berpikir, dan mengambil keputusan

  • Menjadi apatis terhadap lingkungan sekitarnya

  • Tidak tertarik dan tidak memiliki motivasi terhadap segala hal (anhedonia)

  • Timbul ide untuk menyakiti diri sendiri atau percobaan bunuh diri

Ciri-Ciri Depresi secara Fisik

  • Selalu merasa kelelahan dan tidak bertenaga

  • Selera makan menurun atau tidak berselera makan

  • Insomnia atau malah terlalu banyak tidur

  • Pusing atau nyeri yang tidak jelas penyebabnya

  • Gerak tubuh dan cara bicara lebih lambat dari biasanya

  • Tidak ada gairah seksual

  • Berat badan turun atau malah naik secara drastis

Kriteria Diagnostik

  • Suasana hati tertekan - Orang yang depresi cenderung merasa sedih dan putus asa. Terkadang mereka tidak menyadari bahwa mereka sedang down. Ditambah lagi, beberapa orang dengan depresi merasa kesal, frustrasi, mudah tersinggung, atau marah.

  • Kehilangan minat atau kesenangan dalam sebagian besar atau semua aktivitas - Orang dengan depresi tidak lagi tertarik atau merasa senang melakukan hal-hal yang dulu mereka sukai. Istilah medis untuk ini adalah anhedonia. Hobi dan aktivitas kehilangan daya tariknya, dan orang yang depresi berkata "mereka tidak peduli lagi". Mereka mungkin menarik diri atau kehilangan minat pada teman, dan mereka bahkan mungkin kehilangan minat pada seks.

  • Perubahan nafsu makan atau berat badan - Nafsu makan dan berat badan bisa berkurang atau meningkat sebagai bagian dari depresi. Beberapa orang harus memaksakan diri untuk makan, sementara yang lain makan lebih banyak dan terkadang mendambakan makanan tertentu (seperti junk food dan karbohidrat).

  • Insomnia atau hipersomnia (tidur terlalu sedikit atau terlalu banyak) - Depresi sering mengganggu pola tidur, menyebabkan orang terlalu banyak tidur atau tidak dapat tidur atau tetap tertidur. Bahkan saat mereka tidur, penderita depresi sering mengatakan bahwa mereka tidak merasa istirahat dan sulit bangun di pagi hari.

  • Agitasi atau keterbelakangan psikomotorik (gelisah atau lesu) - Orang dengan depresi dapat merasa gelisah dan gelisah, atau memiliki efek sebaliknya dan merasa melambat. Agitasi dapat bermanifestasi sebagai gerakan meremas-remas, mondar-mandir, dan gelisah, sedangkan keterbelakangan dapat bermanifestasi sebagai perlambatan gerakan tubuh, pemikiran, atau ucapan.

  • Kelelahan atau kehilangan energi - Orang dengan depresi sering merasa lelah dan lesu. Mereka terkadang perlu istirahat di siang hari atau bahkan merasa lengan dan kaki mereka dibebani. Bahkan mereka kesulitan memulai atau menyelesaikan tugas

  • Perasaan tidak berharga atau rasa bersalah yang berlebihan - Orang dengan depresi bisa merasa tidak mampu, rendah diri, tidak berharga, atau seperti gagal. Mereka sering kali membawa rasa bersalah yang luar biasa tentang hal-hal yang mungkin mereka lakukan atau tidak lakukan. Seringkali hal ini membuat mereka salah menafsirkan peristiwa netral atau kemunduran kecil sebagai bukti kegagalan pribadi.

  • Konsentrasi yang buruk - Beberapa orang dengan depresi mengalami kesulitan berpikir jernih, berkonsentrasi, atau membuat keputusan. Mereka juga dapat dengan mudah teralihkan atau mengeluhkan masalah memori.

  • Berpikiran tentang kematian atau bunuh diri - Orang yang depresi dapat berpikiran terus tentang kematian atau bunuh diri, bahkan mungkin mencoba bunuh diri. Pemikiran tentang kematian atau bunuh diri, yang disebut "ide bunuh diri", dapat bersifat pasif, artinya orang tersebut hanya berpikir bahwa hidup itu tidak layak untuk dijalani. Terapi ide untuk bunuh diri juga bisa aktif, artinya orang tersebut secara aktif ingin mati atau bunuh diri. Orang dengan keinginan bunuh diri aktif sudah termasuk sakit parah.

Bunuh diri menjadi lebih buruk ketika orang merasa putus asa dan melihat bunuh diri sebagai satu-satunya jalan keluar mereka dari rasa sakit emosional yang intens dan tak berujung.

Beberapa orang dengan depresi melukai diri sendiri, misalnya dengan memotong atau membakar kulit mereka secara dangkal. Gejala depresi lainnya dapat mencakup kecemasan, keputusasaan, dan pemikiran merenung.

Faktor Risiko untuk Depresi

Depresi lebih sering terjadi pada orang dengan faktor risiko atau karakteristik tertentu. Ini termasuk:

  • Riwayat depresi pribadi atau keluarga

  • Neuroticism (kecenderungan untuk mengkhawatirkan hal-hal dengan cara yang tidak sehat atau tidak masuk akal)

  • Harga diri rendah

  • Gangguan kecemasan yang dimulai sejak awal kehidupan

  • Penyalahgunaan zat (seperti masalah minuman keras atau kecanduan narkoba)

  • Gangguan perilaku (gangguan perilaku yang terlihat pada anak-anak atau remaja yang ditandai dengan perilaku agresif, merusak, atau menipu dan mengabaikan aturan)

  • Trauma selama masa kanak-kanak atau dewasa

  • Peristiwa kehidupan yang penuh tekanan di tahun lalu

  • Kehilangan orang tua atau keadaan stres lainnya selama masa kanak-kanak

  • Sejarah perceraian atau masalah perkawinan

  • Dukungan sosial yang rendah

  • Pendidikan rendah

Pencegahan Depresi

Menerapkan gaya hidup sehat dapat membantu mencegah terjadinya depresi, atau mencegah perburukan gejala pada orang yang telah didiagnosis menderita depresi. Beberapa upaya preventif yang dapat MetroFriends lakukan adalah:

  • Hindari Stress

  • Rutin Olahraga

  • Kurangi Waktu Penggunaan Sosial Media

  • Membangun Hubungan Kuat Dengan Orang Lain, dan

  • Jauhi Orang/Lingkungan yang Toxic

Kapan harus ke Dokter?

Segera periksakan ke dokter jika MetroFriends atau orang terdekat mengalami gejala di atas, terutama bila muncul keinginan untuk mencelakai diri sendiri atau orang lain. Penanganan yang tepat sejak dini dapat membantu penderita untuk lebih produktif dan mencegah terjadinya komplikasi akibat depresi. Perlu diketahui, penderita depresi berat sering kali tidak menyadari kondisinya.


Pengobatan Depresi

Depresi adalah penyakit yang harus segera diobati, apalagi jika baru didiagnosa sebagai penderitanya. Dikutip dari Jurnal Institue of Mental Health, dalam mengobati depresi psikiater/dokter spesialis kedokteran jiwa dapat melakukan beberapa cara berikut:

  • Melakukan psikoterapi atau terapi psikologis, untuk membantu mengatasi masalah akibat depresi

  • Memberikan obat antidepresan, untuk mengatasi depresi pasien

  • Menjalani perawatan di rumah sakit jika mengalami depresi yang parah misalnya dengan terapi kejut listrik.

Jika MetroFriends ingin tahu lebih lanjut mengenai penyakit depresi maupun rawat inap dan rawat jalan, dapat langsung menghubungi layanan Metrovia atau dapat berkonsultasi langsung dengan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa yang dapat ditemui di Poli Psikiatri Rumah Sakit Metropolitan Medical Centre. (NAM)


14 views0 comments