Yuk, Kenali Lebih Lanjut Hiperkolesterol yang Selalu Membayangi Penyakit Jantung Koroner!

Bersama dr. Maya Munigar Apandi, SpJP. FIHA

Klik disini untuk cek jadwal dokter!

MetroHealth RS MMC - Penyakit Jantung Koroner (PJK) merupakan masalah kesehatan global di negara maju dan berkembang. Bahkan trend kecenderungan penderita penyakit jantung koroner saat ini banyak terjadi pada usia produktif. Data dari National Heart, Lung, and Blood Institute (NHLBI) tahun 2013 menunjukan di Amerika Serikat terdapat 15,5 juta individu berusia ≥ 20 tahun yang menderita PJK.


Penyakit jantung yang sering ditemui pada orang dewasa di Indonesia berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2018 adalah PJK dan gagal jantung. Prevalensi PJK di Indonesia sebesar 1,5%. Data dari World Health Organization (WHO) memperlihatkan bahwa PJK masih merupakan penyebab kematian utama di dunia. Sekitar 7,4 juta individu (13,2% dari seluruh kematian) di dunia meninggal tiap tahun akibat PJK.

Hiperkolesterol salah satu faktor risiko Penyakit Jantung Koroner

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah RS MMC, dr. Maya Munigar Apandi, SpJP. FIHA mengatakan kadar kolesterol darah yang tinggi (dislipidemia) atau hiperkolesterol merupakan salah satu faktor risiko utama untuk terjadinya PJK dan stroke disamping hipertensi, diabetes melitus, merokok, obesitas, stres psikososial dan inaktivitas fisik.


Kolesterol merupakan senyawa lemak yang diproduksi oleh berbagai sel dalam tubuh, dan sekitar seperempat kolesterol yang dihasilkan dalam tubuh diproduksi oleh sel-sel hati. Dalam keadaan normal, lemak memang diperlukan oleh tubuh supaya tubuh bisa berfungsi secara normal. Tetapi kadar lemak yang berlebihan di dalam tubuh akan meningkatkan risiko terkena serangan jantung mendadak, stroke, dan masalah kesehatan lain.


Dislipidemia atau hiperkolesterol didefinisikan sebagai kelainan metabolisme lipid yang ditandai dengan peningkatan maupun penurunan fraksi lipid dalam plasma. Kelainan fraksi lipid yang utama adalah kenaikan kadar kolesterol total, kolesterol LDL, trigliserida, serta penurunan HDL. Namun intinya hiperkolesterol berarti kadar lemak dalam darah yang tinggi (lebih tinggi daripada normal kadar lemak yang seharusnya) dan ini menjadi salah satu faktor risiko utama untuk terjadinya PJK, ungkap dr Maya.


Beliau menambahkan bahwa prevalensi dislipidemia atas dasar konsentrasi kolesterol total >200 mg/dL adalah 39,8%. Dislipidemia, khususnya kolesterol LDL, mempunyai bukti kuat berhubungan erat dengan kejadian kardiovaskular berdasarkan banyak studi.


Hiperkolesterol tidak memiliki gejala ataupun tanda yang spesifik. Kebanyakan faktor penyebab hiperkolesterol berhubungan dengan gaya hidup tidak sehat. Yang paling sering adalah dari kebiasaan mengkonsumsi makanan yang mengandung kadar lemak yang tinggi. Faktor risiko yang lain diantaranya berat badan di atas berat badan yang direkomendasikan, kebiasaan minum minuman beralkohol secara berlebihan, kurang olah raga dan gaya hidup yang tidak banyak bergerak atau dikenal dengan istilah sedentary life stye. Beberapa masalah kesehatan lain juga dapat meningkatkan kadar lemak dalam darah. Keturunan atau keluarga juga bisa mengambil peranan penting dalam masalah kolesterol seperti kondisi yang dikenal dengan familial hyperlipidemia jelasnya.


Menurut dr Maya, terdapat beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mengontrol kadar lemak dalam tubuh untuk membantu kita menghindari penyakit jantung dan serangan jantung.

Langkah yang paling penting dan efektif adalah memperbaiki gaya hidup seperti diantaranya:

  • Diet berimbang, mengurangi asupan asam lemak jenuh, meningkatkan asupan serat seperti kacang-kacangan, buah, sayur, sereal dan mengurangi asupan karbohidrat.

  • Penurunan berat badan dan berusaha mencapai berat badan ideal.

  • Aktivitas fisik secara teratur seperti jalan cepat 30 menit per hari selama 5 hari per minggu atau aktivitas lain yang setara. Aktivitas fisik ini akan berpengaruh besar terhadap kolesterol total dan LDL jika disertai diet dan penurunan berat badan.

  • Menghentikan kebiasaan merokok, dan

  • Membatasi konsumsi minuman beralkohol.


Langkah-langkah ini perlu diterapkan setidaknya 3 bulan untuk bisa menurunkan kadar lemak darah yang tinggi. Pada kelompok tertentu, perubahan gaya hidup mungkin saja cukup untuk memperbaiki kadar lemak darah. Sedangkan pada kelompok lain, diperlukan terapi tambahan seperti obat-obatan. Pemeriksaan rutin disarankan untuk memantau kadar lemak darah secara berkala, pemeriksaan juga dapat dilakukan pada usia yang lebih muda, bila memiliki faktor risiko lain.


 

Klik disini untuk pendaftaran konsultasi lebih lanjut!

99 views0 comments